Apa sih Doomscrolling?

 credit : [Mentor EB]

Doomscrolling: Sebuah Ketidakjelasan Informasi yang Mendorong Kita untuk Terus Gulir Beranda
"Ada zaman ketika jempol-jempol manusia mulai berpikir layaknya makhluk hidup. Mereka mengontrol tuannya untuk terus bertindak di luar batas-batas moral dan etika. Di zaman tersebut, manusia akan terus menunduk. Memperhatikan kata demi kata tanpa hakikat; gambar demi gambar tanpa esensi; rekaman demi rekaman yang tak berarti. Manusia terus menatap..., menatap kotak cahaya yang terus bergulir tanpa henti".
Salam sejahtera Warga EB!
Sebelumnya, mari kita menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut ke dalam diri sendiri:
Berapa lama kita terjebak dalam menatap layar ponsel, komputer, atau PC?
Berapa lama dalam sehari kita menggulir beranda Facebook?
Berapa lama kita menonton video YouTube?
Dan berapa waktu yang kita habiskan dalam memantau info selebritas di Instagram?
Seberapa penting kah kegiatan-kegitaan di atas dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah berdampak negatif atau positif?
Pertanyaan tersebut akan menjadi bahan renungan kita dalam membahas topik kali ini. Markijut, mari kita lanjut!
***
Ledakan informasi mengubah cara pandang kita dalam memandang informasi itu sendiri. Tak seperti dahulu, di mana informasi di kontrol oleh media massa. Saat ini, informasi merupakan sebuah hal yang sulit untuk dikontrol. Salah satu yang mempengaruhi munculnya ledakan informasi adalah berkembangnya jaringan internet dan media sosial.
Media sosial menjadi sebuah gaya hidup bagi masyarakat dunia saat ini. Hampir setiap orang dari berbagai rentang usia, baik remaja hingga orang dewasa memiliki akun sosial media, paling tidak sebuah akun Facebook.
Pada dasarnya media sosial memiliki fungsi utama yaitu sebagai media komunikasi. Oleh karena itu, biasanya media sosial digunakan sebagai sarana hiburan, mencari pertemanan, relasi, dan penyegaran pikiran.
Namun, tahukah anda tentang bagaimana sosial media menyeret kita ke dalam sebuah permasalahan produktifitas dan kesehatan mental yang disebut dengan doomscrolling?
Mengenal apa itu Doomscrolling
Doomscrolling adalah sebuah kegiatan atau tindakan menggulir aplikasi (khususnya media sosial dan situs berita) tanpa henti. Kegiatan tersebut dilakukan secara intens dan menghabiskan banyak waktu tanpa memperoleh manfaat lebih.
Berselancar di dunia maya menjadi salah satu cara untuk menyegarkan pikiran, tetapi tak ada yang menjamin kualitas informasi yang diperoleh itu baik untuk kita. Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa ledakan informasi membuat informasi tidak terkontrol. Alih-alih menjernihkan pikiran, informasi yang kita dapatkan berdampak buruk bagi kesehatan kita.
Doomsrolling terjadi karena seorang individu ingin terus mendapatkan informasi-informasi terkini. Seorang psikoanalisis bernama Babita Spinelli mengungkapkan, "Seseorang beralih ke media sosial untuk mendapatkan informasi di masa stres dan doomscrolling menjadi mekanisme penanggulangan yang berhubungan dengan ketidakpastian dunia."
Spinelli melanjutkan bahwa doomscrolling malah berpotensi memperparah kondisi. Ketidakpastian dan kabar berita yang terus terulang-ulang di kabar beranda malah akan memperburuk keadaan.
Doomscrolling berkaitan erat dengan sebuah perasaan takut tertinggal informasi atau biasa disebut dengan FOMO (Fear of Missing Out).
FOMO merupakan sebuah kondisi di mana seseorang akan terus menerus memantau sosial medianya karena perasaan takut tertinggal informasi. Informasi yang dimaksud adalah informasi mengenai berita terbaru, ter-update, dan terkini, yang sedang hits di suatu wilayah. Ciri dari FOMO ini salah satunya selalu mengecek sosial media setiap saat. Mulai dari bangun tidur, sebelum makan, setelah ke kamar mandi, dan situasi lainnya. Saat mengecek sosial media, maka fenomena doomscrolling akan beraksi, seseorang akan menggulir beranda tanpa henti.
Tentunya FOMO dan doomscrolling sangat berdampak buruk bagi kita. Baik itu kesehatan maupun masalah produktifitas. Salah satu gangguan yang paling besar timbul bagi kesehatan mental kita yaitu menyebabkan kecemasan dan emosi negatif.
Seperti yang kita ketahui bahwa doomscrolling terjadi ketika kita merasa cemas dan adanya ketidakpastian tentang informasi selanjutnya. Ketidakpastian dan kecemasan tersebut jika dialami dalam waktu yang lama dan terus terulang-ulang akan membuat suasana hati menjadi buruk dan peningkatan tingkat kecemasan. Kondisi tersebut tak menutup kemungkinan akan mengembangkan serangan panik.
Selain itu, gangguan kesehatan secara fisik juga dapat timbul akibat doomscrolling. Doomscrolling akan membawa kita ke sebuah gangguan tidur yang akan menyebabkan stres.
Menurut laman boldsky yang dikutip dari Tirto(.)id bahwa peningkatan hormon stres yang ditimbulkan oleh doomscrolling secara kronis dapat menyebabkan penyakit jantung, diabetes, hingga obesitas.
Lalu, bagaimana mengatasi doomscrolling ini?
Dikutip dari CNN Indonesia, tips menghindari doomscroling menurut Babita Spinelli adalah sebagai berikut:
1. Tentukan tujuan scrolling
Daripada menelusur media sosial tanpa tujuan, kita bisa membaca buletin, majalah, surat kabar, baik elektronik maupun cetak.
2. Tahan hasrat untuk scroll
Ketika kita sudah menemukan sejumlah sumber berita maka minimalkan waktu untuk membaca terlebih dahulu, hindari scroll down secara terus menerus.
3. Biasakan untuk berdiskusi
Kita bisa berdiskusi secara online untuk menghindari doomscrolling. Salah satunya dengan berdiskusi di Ensiklopedia Bebas (Eaaa ... ).
4. Membaca buku atau mendengar podcast
Sebagai pengganti doomscrolling kita juga bisa mendengarkan podcast atau buku yang ingin dibaca.
5. Luangkan waktu
Baik secara fisik maupun virtual untuk menjadi relawan atau bergabung di salah satu komunitas agar meghindari menelusur informasi yang tidak penting.
Nah, begitulah rekan-rekan EB, sudah bisa menahan diri untuk menggulir layar sosial media tanpa henti tanpa tujuan? Sosial media merupakan penemuan yang super oleh manusia. Saya sangat terbantu dengan adanya sosial media. Tapi, gunakanlah sosial media untuk hal-hal yang bermanfaat, berdiskusi di EB misalnya, hehe.
Kalau ada saran lain untuk menghindari doomscrolling versi rekan-rekan, bisa tulis di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat, sampai jumpa, terima kasih, dan salam literasi!
---------------------------
^Thread Starter adalah seorang Mahasiswa Perpustakaan dan Ilmu Informasi, UHO. Bercita-cita menjadi seorang pustakawan yang mencerdaskan kehidupan bangsa.
-----------------------------
Referensi:
[1] Fortunata, Putri. 2020. "Mengenal Fear of Missing Out, Rasa Takut Ketinggalan Hal Baru. Diakses melalui https,//kumparan,com/karjaid/mengenal-fear-of-missing-out-rasa-takut-ketinggalan-hal-baru-1sjgL9aqiYG/full pada 12 April 2021.
[2] Koesno, Dhita. 2020. "Apa Itu Doomscrolling dan Dampaknta Bagi Kesehatan Mental?". Diakses melalui https,//tirto,id/apa-itu-doomscrolling-dan-dampaknya-bagi-kesehatan-mental-f44N pada 12 April 2021.
[3] N.N. 2020. "Mengenal Doomscrolling, Kecenderungan Menelusuri Kabar Buruk". Diakses melalui https,//www.cnnindonesia,com/gaya-hidup/20200811081413-284-534313/mengenal-doomscrolling-kecenderungan-menelusuri-kabar-buruk pada 12 April 2021.
[4] Prasetya, Eka. 2020. "Ledakan Informasi dalam Fenomena Influencer Media Sosial". Diakses melalui https,//ksm,ui,ac,id/ledakan-informasi-dalam-fenomena-influencer-media-sosial/ pada 12 April 2021.

credit : mentor EB
credit : amikom.ac.id

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Harry Potter 1 Audiobook

Tech4everyone